Salam Sejahtera untuk kita semua.
Puji Syukur kepada Bapa Surgawi. Atas anugerahNYA, kita kembali meluluskan Angkatan XVI untuk kelas 9 dan Angkatan XV untuk kelas 12 Dian Harapan Daan Mogot pada Tahun Ajaran 2021 – 2022. Tahun ini merupakan tahun ketiga kita meluluskan satu angkatan dalam keadaan pandemi. Namun di sisi lain, kita bersyukur karena secara umum keadaan semakin membaik, terlihat dari: angka kematian yang semakin rendah untuk penderita Covid-19, pengadaan vaksinasi ketiga, pelonggaran PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan perjalanan antar wilayah. Harapannya, herd immunity segera terbentuk dan aktivitas masyarakat (termasuk persekolahan) dapat mencapai kenormalan baru.
Adanya pandemi selama dua tahun terakhir ini setidaknya mengajarkan kita dua hal:
- Ketidakpastian dalam hidup. Dalam merencanakan sesuatu pada masa sekarang, variabel pandemi menjadi salah satu pertimbangan. Penundaan atau tetap pada jadwal semula? Pembatalan atau tetap diselenggarakan suatu acara? Wajib karantina atau tidak perlu bagi yang telah menyelesaikan perjalanan? Harus tes antigen atau cukup sertifikat vaksin? Semuanya kini menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Tidak ada yang bisa diandalkan secara pasti untuk menjalani hari-hari ke depannya.
- Ketidak-kekalan dalam hidup. Hidup manusia sedemikian fana. Sebagian orang sangat ketakutan pada kematian akibat Covid: takut untuk dirinya sendiri ataupun takut menularkan virus itu kepada orang-orang terkasih. Tetapi, persoalan kematian akibat Covid atau kematian akibat usia lanjut hanyalah soal waktu. Setiap dari kita pasti akan menuju ke sana. Sudahkah kita mempersiapkan diri?
Sebagai alumni Dian Harapan, kita telah dikenalkan Pribadi yang dapat memberikan kepastian kekekalan. Yesus Kristus adalah pribadi tersebut. Jika kita beriman (percaya) kepadaNYA, Dia akan memberikan jaminan hidup kekal. Jika hidup kekal sudah di tangan kita, apalagi yang perlu dikuatirkan dan ditakutkan.
Namun persoalan tidak berhenti sampai di sana. Dalam fase “menunggu” kekekalan itu datang, setiap kita telah dititipkan talenta-talenta. Talenta-talenta yang dititipkan berbeda-beda tiap orang. Yang penting bukan jumlahnya, melainkan apakah talenta itu sudah dikerjakan atau tidak. Jika “Tuan” yang menitipkan talenta itu datang kembali, apa yang kita pertanggungjawabkan? Talenta yang telah berlaba atau jumlah talenta yang sama? (Baca Matius 25:14-30).
Mari renungkan kembali rencana kehidupan kita selanjutnya! Apakah saya menemukan talenta saya? Apa yang akan saya lakukan dengan talenta tersebut? Sudahkah saya menginvestasikan talenta saya untuk kekekalan? Let us proclaim Christ through our talent(s)
Home